Pernah nggak sih merasa pas gaji naik, bukannya tabungan bertambah malah pengeluaran ikut membengkak? Kalau kamu mengalami hal ini, kemungkinan besar kamu sedang menghadapi fenomena inflasi gaya hidup.
Banyak generasi muda terjebak dalam pola ini tanpa disadari. Saat pendapatan meningkat, keinginan untuk upgrade smartphone, langganan layanan streaming premium, atau makan di restoran trendi jadi lebih sering muncul. Kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2024 menunjukkan inflasi nasional terkendali di angka 1,57% pada Oktober 2024 menurut Badan Pusat Statistik. Namun inflasi pada gaya hidup individu justru bisa jauh lebih tinggi jika tidak dikelola dengan baik.
Baca juga: Hedon vs Healing: Beda Tipis Tapi Dampaknya Bisa Jauh di Kantong
Apa Itu Inflasi Gaya Hidup?
Inflasi gaya hidup adalah fenomena pengeluaran seseorang meningkat seiring bertambahnya pendapatan, tanpa proporsi seimbang untuk tabungan atau investasi. Dengan kata lain, semakin banyak uang masuk, semakin besar pula keinginan untuk menghabiskannya.
Berbeda dengan inflasi ekonomi, fenomena ini lebih bersifat personal. Inflasi ekonomi mengukur kenaikan harga barang secara umum, sementara inflasi gaya hidup dipicu oleh perubahan standar hidup individual. Fenomena ini sangat umum terjadi di kalangan generasi muda, terutama mereka baru memulai karier atau mendapat kenaikan gaji.
Menurut survei GoodStats pada November 2024, sebanyak 34,5% responden Indonesia lebih suka membelanjakan langsung semua uangnya dibandingkan menabung. Data ini menunjukkan inflasi gaya hidup menjadi tantangan nyata perlu segera ditangani.

Mengapa Inflasi Gaya Hidup Terjadi?
Ada beberapa faktor utama mendorong terjadinya inflasi gaya hidup, khususnya di kalangan generasi muda:
Tekanan Sosial dan Media Sosial
Platform seperti Instagram, TikTok, Twitter memperlihatkan standar hidup glamor setiap hari. Konten dari influencer menampilkan produk branded, liburan mewah, gaya hidup premium. Semua ini menciptakan ekspektasi tinggi. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat banyak orang merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren sedang viral.
Survei TGM Research tahun 2024 mencatat 84% masyarakat Indonesia, khususnya dari kelompok anak muda, menyatakan kekhawatiran akan biaya hidup semakin tinggi. Namun ironisnya, 78% dari mereka tetap berusaha menyesuaikan gaya hidup dengan mencari alternatif lebih terjangkau, bukan mengurangi konsumsi secara keseluruhan.
Kemudahan Akses Digital Payment
Kehadiran e-commerce, aplikasi dompet digital, fitur paylater mempermudah transaksi hingga membuat pengeluaran terasa kurang nyata. Kemudahan ini membuat generasi muda lebih rentan terhadap pembelian impulsif karena tidak merasakan dampak langsung dari pengeluaran tunai.
Baca juga: Self Reward: Hadiah untuk Diri Sendiri atau Alasan Boros?
Peningkatan Pendapatan Tanpa Perencanaan
Ketika seseorang mendapat kenaikan gaji atau bonus, tanpa perencanaan keuangan matang, uang tambahan tersebut cenderung dialokasikan untuk meningkatkan standar hidup alih-alih menambah tabungan. Survei OCBC Financial Fitness Index tahun 2024 mengungkapkan 39% anak muda perkotaan memiliki kebiasaan menabung untuk membeli barang branded, liburan, tiket konser, bukan untuk dana darurat ataupun investasi jangka panjang.
Rendahnya Literasi Keuangan
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 oleh OJK serta BPS, indeks literasi keuangan kelompok usia 15-17 tahun hanya mencapai 51,70%. Sementara kelompok usia 18-25 tahun berada di angka 70,19%. Angka ini menunjukkan masih banyak generasi muda belum memiliki pemahaman memadai tentang pengelolaan keuangan pribadi.

Jenis-Jenis Inflasi Gaya Hidup
Inflasi gaya hidup dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan pola pengeluaran:
Inflasi Gaya Hidup Konsumtif
Jenis ini paling umum terjadi, seseorang meningkatkan pengeluaran untuk barang konsumtif seperti gadget terbaru, pakaian branded, makanan di restoran premium, hiburan. Karakteristik pengambilan keputusan pembelian dari generasi muda cenderung cepat, impulsif, terpengaruh oleh pesatnya digitalisasi melalui platform media sosial.
Inflasi Gaya Hidup Sosial
Jenis ini terjadi ketika seseorang meningkatkan pengeluaran demi menjaga status sosial atau mengikuti lingkungan pergaulan. Survei OCBC Financial Fitness Index 2024 menunjukkan sekitar 80% responden mengakui mereka menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup lingkaran sosial mereka, meningkat dari 73% pada tahun 2023.
Fenomena ini sering terlihat pada anak muda berusaha tampil tidak kalah dengan teman-teman satu komunitasnya, baik dalam hal pakaian, gadget, maupun tempat nongkrong.
Inflasi Gaya Hidup Bertahap
Ini adalah jenis inflasi gaya hidup terjadi secara perlahan tanpa disadari. Misalnya, awalnya minum kopi di warung biasa, kemudian beralih ke coffee shop, lalu meningkat lagi ke specialty coffee dengan harga jauh lebih mahal.
Data BPS menunjukkan pola belanja masyarakat Indonesia bergeser dalam 10 tahun terakhir. Pengeluaran untuk kebutuhan hiburan meningkat dari 0,22% pada 2014 menjadi 0,38% pada 2024.

Dampak Inflasi Gaya Hidup terhadap Keuangan Pribadi
Inflasi gaya hidup membawa berbagai konsekuensi negatif perlu diwaspadai:
Kesulitan Membangun Tabungan
Survei GoodStats dirilis pada Desember 2024 mengungkapkan hanya 30,1% masyarakat Indonesia memiliki tabungan, sementara 69,9% sisanya tidak menabung sama sekali. Dari mereka menabung pun, 23,4% mengaku masih belum konsisten.
Perilaku impulsif ini membuat uang cepat habis, kebutuhan penting malah tidak terpenuhi. Kondisi ini diperparah dengan temuan 28,2% responden menghadapi kendala pendapatan, sehingga mereka kesulitan menyisihkan uang untuk ditabung.
Terjebak dalam Siklus Utang
Kemudahan akses ke pinjaman online serta fitur paylater membuat generasi muda semakin mudah berutang untuk membiayai gaya hidup. Tanpa pengelolaan baik, utang konsumtif ini bisa menumpuk, menciptakan siklus “gali lubang tutup lubang” sulit diputus.
Terhambatnya Tujuan Keuangan Jangka Panjang
Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk konsumsi, tujuan keuangan jangka panjang seperti membeli rumah, mempersiapkan dana pensiun, membangun portofolio investasi menjadi tertunda. OCBC Financial Fitness Index 2024 mencatat hanya 25% generasi muda memiliki dana darurat, meningkat dari 17% pada tahun 2023. Namun angka ini masih jauh dari ideal.
Stres Finansial
Pengeluaran tidak terkontrol, tidak seimbang dengan pendapatan dapat menimbulkan stres finansial berdampak pada kesehatan mental. Perilaku konsumtif berlebihan saat stres justru memperburuk kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Cara Mengelola dan Mencegah Inflasi Gaya Hidup
Mengelola inflasi gaya hidup membutuhkan kesadaran, disiplin, strategi tepat. Berikut adalah langkah-langkah praktis bisa kamu terapkan:
Buat Anggaran dengan Metode 50/30/20
Metode ini membagi pendapatan: 50% kebutuhan pokok, 30% keinginan, 20% tabungan serta investasi. Dengan cara ini, kamu memiliki batasan jelas untuk setiap kategori pengeluaran.
Survei GoodStats menunjukkan hanya 37,5% responden membuat anggaran bulanan secara rutin. Padahal kebiasaan ini sangat penting untuk mengelola keuangan dengan baik.
Terapkan Prinsip “Nabung Dulu, Baru Belanja”
Alih-alih menabung dari sisa pengeluaran, sisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan segera setelah gaji masuk. Dengan cara ini, kamu memastikan komitmen menabung terpenuhi sebelum uang habis untuk konsumsi.
Mayapada Skorcard bisa membantu kamu melacak pengeluaran secara sistematis dengan fitur budget tracking memudahkan pemantauan keuangan harian. Selain itu, sistem Skorpoint bisa dikonversi menjadi KrisFlyer Miles, memberikan value tambahan dari setiap transaksi kamu lakukan.
Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Sebelum melakukan pembelian, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya saya inginkan?”
Data GoodStats mencatat sikap kurang disiplin serta kebutuhan mendesak menjadi hambatan utama dalam menabung. Dengan membedakan kebutuhan dari keinginan, kamu bisa lebih selektif dalam mengalokasikan dana.
Hindari Perbandingan Sosial
Berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial. Ingat bahwa apa terlihat di Instagram atau TikTok belum tentu mencerminkan kondisi finansial sebenarnya. Fokus pada tujuan keuangan pribadi, bukan standar hidup orang lain.
Manfaatkan Teknologi untuk Tracking Keuangan
Gunakan aplikasi pengelola keuangan untuk memantau pengeluaran harian. Dengan aplikasi Skorlife, kamu bisa memantau skor kredit serta kondisi keuangan secara menyeluruh, membantu kamu membuat keputusan finansial lebih bijak.
Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala
Lakukan review keuangan setidaknya setiap bulan untuk melihat pola pengeluaran. Identifikasi pos-pos bisa dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Evaluasi rutin membantu kamu lebih sadar terhadap kebiasaan belanja mungkin tidak produktif.
Tingkatkan Literasi Keuangan
Ikuti program edukasi keuangan, baca buku tentang personal finance, atau bergabung dengan komunitas memiliki tujuan finansial serupa. Semakin tinggi literasi keuangan, semakin baik kemampuan kamu dalam mengelola uang.
Membangun Pola Pikir Keuangan Sehat
Mengatasi inflasi gaya hidup bukan hanya tentang mengatur uang, tapi juga mengubah mindset tentang keuangan. Berikut adalah prinsip-prinsip perlu dipegang:
Fokus pada Kebebasan Finansial, Bukan Status
Alih-alih mengejar validasi sosial melalui barang-barang mewah, fokuslah pada tujuan kebebasan finansial. Di sana kamu tidak perlu khawatir soal uang di masa depan. Kebebasan finansial memberikan rasa aman jauh lebih berharga dibanding status sosial sementara.
Praktikkan Gratitude
Bersyukur atas apa sudah kamu miliki membantu mengurangi keinginan untuk terus-menerus membeli hal baru. Penelitian menunjukkan rasa syukur dapat mengurangi kecenderungan perilaku konsumtif.
Investasi pada Pengalaman, Bukan Barang
Alih-alih menghabiskan uang untuk barang-barang material nilainya cepat menyusut, investasikan pada pengalaman memberikan kenangan berharga. Seperti belajar skill baru, traveling dengan bijak, membangun hubungan berkualitas.
Bangun Emergency Fund Terlebih Dahulu
Prioritaskan membangun dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran sebelum meningkatkan standar hidup. OCBC Financial Fitness Index 2024 menunjukkan di antara mereka mencatat pengeluaran, 41% memiliki dana darurat setara enam bulan gaji, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini membuktikan pencatatan keuangan baik mendorong pembentukan dana darurat.
Baca juga: Tips Mengatasi Overspending: Penyebab & Solusinya
Peran Mayapada Skorcard dalam Mengelola Inflasi Gaya Hidup
Mengelola inflasi gaya hidup membutuhkan alat bantu tepat untuk memantau serta mengontrol pengeluaran. Mayapada Skorcard hadir sebagai solusi cerdas dirancang khusus untuk generasi muda ingin mengelola keuangan dengan lebih baik.
Dengan sistem gamifikasi menarik, kamu bisa mengumpulkan Skorpoint dari setiap transaksi, mengonversinya menjadi KrisFlyer Miles untuk berbagai kebutuhan. Fitur budget tracking membantu kamu memantau pengeluaran secara real-time, sehingga lebih mudah mengidentifikasi area perlu dikontrol.
Kartu kredit ini menawarkan limit hingga Rp50 juta dengan annual fee Rp300.000 berpotensi dibebaskan dengan kondisi tertentu. Earning rate kompetitif, Rp10.000 per mile untuk transaksi online, Rp50.000 per mile untuk transaksi offline, memberikan value tambahan dari setiap pengeluaran kamu lakukan.
FAQ tentang Inflasi Gaya Hidup
Apa Perbedaan Inflasi Gaya Hidup dengan Inflasi Ekonomi?
Inflasi ekonomi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang diukur oleh pemerintah, seperti inflasi Indonesia tahun 2024 yang tercatat 1,57%. Sementara inflasi gaya hidup adalah peningkatan pengeluaran pribadi yang terjadi seiring bertambahnya pendapatan, bukan karena harga naik. Inflasi gaya hidup bersifat personal dan bisa dikontrol oleh individu, berbeda dengan inflasi ekonomi yang merupakan fenomena makro.
Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Saya Mengalami Inflasi Gaya Hidup?
Kamu bisa mengalami inflasi gaya hidup jika tabungan tidak bertambah meskipun gaji naik, sering membeli barang non-esensial dengan kartu kredit atau paylater, menganggap barang mahal sebagai kebutuhan wajib, dan merasa penghasilan selalu kurang meski sudah meningkat. Survei GoodStats 2024 menunjukkan 34,5% orang Indonesia lebih suka membelanjakan uang langsung daripada menabung.
Apakah Inflasi Gaya Hidup Selalu Buruk?
Tidak selalu buruk jika dikelola dengan baik. Meningkatkan kualitas hidup setelah gaji naik adalah hal wajar, asalkan tetap ada alokasi untuk tabungan dan investasi minimal 20% dari pendapatan. Yang berbahaya adalah ketika peningkatan pengeluaran melebihi kenaikan pendapatan, sehingga tidak ada ruang untuk membangun dana darurat atau mencapai tujuan finansial jangka panjang.
Berapa Persen Pendapatan yang Sebaiknya Ditabung untuk Menghindari Inflasi Gaya Hidup?
Metode 50/30/20 adalah panduan yang banyak direkomendasikan: 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan serta investasi. Namun jika memungkinkan, tingkatkan alokasi tabungan menjadi 30% atau lebih, terutama jika belum memiliki dana darurat yang memadai. Data menunjukkan hanya 16% penduduk Indonesia yang memiliki dana darurat.
Bagaimana Cara Mengatasi Inflasi Gaya Hidup yang Sudah Terlanjur Terjadi?
Mulai dengan membuat audit keuangan untuk melihat pola pengeluaran selama 3 bulan terakhir, identifikasi pengeluaran yang bisa dikurangi atau dihilangkan, lalu buat anggaran baru dengan alokasi yang lebih bijak. Manfaatkan tools seperti Mayapada Skorcard untuk tracking pengeluaran, tutup layanan subscription yang jarang dipakai, dan fokuskan kembali pada tujuan finansial jangka panjang. Penting juga untuk melunasi utang konsumtif terlebih dahulu sebelum meningkatkan tabungan.




Leave a Reply