Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran soal kesehatan mental dan fisik makin meningkat. Tapi ada satu aspek penting namun kerap luput dibahas, yaitu financial self care. Padahal, kondisi keuangan punya dampak langsung ke tingkat stres, kualitas hidup, hingga rasa aman di masa depan.
Financial self care bukan soal jadi super hemat atau langsung jago investasi. Ini tentang kebiasaan kecil dan konsisten dalam merawat keuangan pribadi agar kamu merasa lebih tenang, terkontrol, serta siap menghadapi risiko finansial. Berikut panduan praktis untuk memulainya.
Baca juga: Memahami Mindful Spending dan Tips Menerapkannya
Apa Itu Financial Self Care?
Financial self care adalah praktik sadar dalam mengelola uang dengan cara yang mendukung kesejahteraan jangka pendek hingga jangka panjang. Konsep ini mencakup pengelolaan pengeluaran, tabungan, utang, hingga pengambilan keputusan finansial lebih rasional.
Berbeda dengan financial planning yang sering terasa teknis serta kaku, pendekatan financial self care lebih manusiawi. Fokusnya bukan hanya angka, tapi juga kebiasaan dan emosi saat berhubungan dengan uang.

Cara Memulai Financial Self Care
1. Kenali Kondisi Keuangan Tanpa Menghakimi Diri Sendiri
Langkah awal financial self care adalah jujur pada kondisi keuanganmu saat ini. Bukan untuk mengkritik diri sendiri, tapi untuk membangun kesadaran. Mulailah dengan mengecek gambaran besar keuangan, seperti:
- Total pemasukan bulanan
- Pengeluaran rutin dan variabel
- Sisa saldo di akhir bulan
- Cicilan atau utang yang masih berjalan
Banyak orang menghindari tahap ini karena takut merasa “gagal”. Padahal, menurut penelitian dari American Psychological Association, stres finansial justru semakin berat ketika seseorang dibebani rasa bersalah berlebihan. Financial self care mengajak kamu melihat angka sebagai data netral untuk evaluasi serta perbaikan, bukan sebagai label buruk atas diri sendiri.
Baca juga: Apa Itu Budgeting & Cara Mengatur Anggaran
2. Buat Anggaran secara Realistis, Bukan Menyiksa
Kesalahan umum dalam mengatur keuangan adalah membuat anggaran yang terlalu kaku. Dalam praktik financial self care, anggaran seharusnya memberi rasa aman, bukan tekanan.
Pendekatan sederhana seperti:
- 50% kebutuhan
- 30% keinginan
- 20% tabungan dan proteksi
bisa menjadi titik awal. Namun jika kondisi belum ideal, menyesuaikan bukan berarti gagal. Yang terpenting, kamu tahu ke mana uangmu mengalir. Konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih efektif daripada target sempurna namun sulit dijalani.

3. Sisihkan Dana Darurat sebagai Bentuk Perlindungan Diri
Financial self care sangat berkaitan dengan rasa aman jangka panjang. Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan pertama saat terjadi situasi tak terduga. Idealnya, siapkan dana setara 3-6 bulan pengeluaran rutin.
Dana ini bukan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan sebagai penyangga saat menghadapi risiko seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau kebutuhan keluarga yang mendesak. Studi dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa individu dengan dana darurat cenderung lebih stabil secara emosional serta tidak mudah panik saat krisis ekonomi terjadi.
4. Kelola Utang dengan Strategi, Bukan Emosi
Utang sering menjadi sumber kecemasan, bukan karena jumlahnya semata, tetapi karena kurangnya strategi. Dalam financial self care, langkah penting yang perlu kamu lakukan meliputi:
- Mengetahui total utang aktif
- Memahami bunga dan jatuh tempo
- Menentukan prioritas pelunasan
Gunakan kartu kredit secara sadar dan terencana, bukan sebagai respons impulsif. Kartu kredit seperti Skorcard dapat membantu kamu memantau transaksi secara transparan, mengatur arus kas, hingga menjaga pembayaran tetap tepat waktu. Dengan kontrol baik, utang bisa dikelola tanpa mengorbankan ketenangan pikiran.
5. Gunakan Alat Keuangan yang Mempermudah, Bukan Menjebak
Financial self care juga berarti memilih alat keuangan yang mendukung kesadaran finansial. Aplikasi budgeting, e-wallet, ataupun kartu kredit seharusnya membantu kamu memahami pola belanja, bukan mendorong konsumsi berlebihan.
Skorcard dirancang untuk mendukung pengelolaan keuangan secara lebih mindful. Selain memudahkan tracking pengeluaran, kamu juga bisa mengumpulkan Skorpoint yang dapat ditukar dengan berbagai keuntungan, termasuk KrisFlyer miles. Dengan begitu, pengeluaran yang terkontrol tetap memberikan nilai tambah.
Baca juga: Apa Itu Latte Factor? Penyebab dan Cara Mengatasinya
6. Sisihkan Waktu Khusus untuk “Check-in” Keuangan
Seperti bentuk self care lainnya, financial self care membutuhkan rutinitas. Luangkan sekitar 30 menit setiap minggu atau bulan untuk:
- Mengecek pengeluaran
- Menilai progres tabungan
- Menyesuaikan anggaran bila perlu
Kebiasaan sederhana ini membantu kamu lebih tenang karena tidak lagi menghindari kondisi keuangan. Dalam behavioral finance, kebiasaan evaluasi rutin terbukti meningkatkan kesadaran dan kualitas pengambilan keputusan finansial.
7. Rayakan Kemajuan Kecil agar Tetap Termotivasi
Financial self care bukan tentang langsung mencapai kondisi finansial sempurna, tapi tentang merasa lebih terkendali dari waktu ke waktu. Rayakan pencapaian kecil seperti:
- Berhasil menabung secara konsisten
- Tidak telat membayar tagihan
- Mulai mengurangi utang
Apresiasi ini penting agar perjalanan keuangan tidak terasa berat dan penuh tekanan. Dengan pendekatan lebih manusiawi, financial self care menjadi kebiasaan jangka panjang yang realistis sekaligus berkelanjutan.
Financial Self Care Bukan Tren, tapi Kebutuhan
Di tengah ketidakpastian ekonomi, financial self care adalah skill hidup yang wajib dimiliki. Dengan kebiasaan sederhana, alat yang tepat seperti Skorcard, serta mindset yang sehat, kamu bisa membangun hubungan lebih baik dengan uang.
Ingat, tujuan akhirnya bukan sekadar saldo besar, tapi rasa aman, tenang, serta percaya diri dalam setiap keputusan finansial yang kamu ambil. Itulah esensi sejati dari financial self care.
FAQ Seputar Financial Self Care
- Apa itu financial self care dan mengapa penting?
Financial self care adalah kebiasaan merawat kondisi keuangan secara sadar agar tetap sehat dan terkendali. Praktik ini penting karena keuangan yang stabil membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa aman, hingga mendukung kualitas hidup jangka panjang.
- Apakah financial self care hanya untuk orang dengan penghasilan besar?
Tidak. Financial self care justru paling relevan untuk siapa pun, termasuk dengan penghasilan terbatas. Fokusnya bukan pada jumlah uang, melainkan pada kebiasaan mengelola pemasukan, pengeluaran, serta utang secara bijak dan realistis.
- Apa perbedaan financial self care dan perencanaan keuangan?
Perencanaan keuangan cenderung teknis dan berbasis target jangka panjang, sedangkan financial self care lebih menekankan kebiasaan sehari-hari serta hubungan emosional dengan uang. Keduanya saling melengkapi dan idealnya dijalankan bersamaan.
- Bagaimana cara memulai financial self care jika masih punya utang?
Mulailah dengan memahami total utang, bunga, dan jatuh tempo. Financial self care tidak menuntut kamu bebas utang seketika, tetapi mendorong pengelolaan secara terencana, termasuk menggunakan alat seperti kartu kredit secara terkendali agar arus kas tetap sehat.
- Apakah penggunaan kartu kredit bertentangan dengan financial self care?
Tidak selalu. Jika digunakan dengan sadar dan terkontrol, kartu kredit justru bisa mendukung financial self care. Produk seperti Skorcard membantu memantau transaksi, mengatur pengeluaran, sekaligus memberi manfaat tambahan seperti Skorpoint dan KrisFlyer miles.



Leave a Reply